FORUM STARLIGHTS INDONESIA
Silahkan Log In Atau Mendaftar Menjadi Anggota Forum Starlights Indonesia Disini.
Latest topics
» ANCIENT ALIENS
Wed Jul 22, 2015 7:21 pm by Hakiki Wawan AJ

» MEDITASI UNTUK MENGAKTIFKAN ENERGI SENDIRI & MENYEMBUHKAN IBU BUMI
Wed Jul 22, 2015 5:11 pm by Hakiki Wawan AJ

» KAMU BINGUNG INDIGO ATAU BUKAN? CEK DISINI AJA...
Thu May 14, 2015 11:00 am by eckilsax

» v =(^_^)= V
Thu May 14, 2015 10:02 am by eckilsax

» Hallo... salam kenal
Sat Jan 31, 2015 2:07 am by heilswing

» EVOLUSI BUMI
Fri Jan 09, 2015 9:19 am by pramesti23

» Rindu kalian
Tue Sep 16, 2014 5:47 pm by Raksaka Duta

» Check this out Bro and Sis ^^
Tue Sep 16, 2014 5:39 pm by Raksaka Duta

» ada apa dengan manusia jaman sekarang???:(
Tue Sep 16, 2014 5:38 pm by Raksaka Duta

Social bookmarking

Social bookmarking Digg  Social bookmarking Delicious  Social bookmarking Reddit  Social bookmarking Stumbleupon  Social bookmarking Slashdot  Social bookmarking Furl  Social bookmarking Yahoo  Social bookmarking Google  Social bookmarking Blinklist  Social bookmarking Blogmarks  Social bookmarking Technorati  

Bookmark and share the address of FORUM STARLIGHTS INDONESIA on your social bookmarking website


DIMANAKAH CINTA UNTUK ROHINGYA?

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

DIMANAKAH CINTA UNTUK ROHINGYA?

Post by Dewa Kamajaya on Wed Aug 15, 2012 12:15 pm

Pada bulan Juni 2012 lalu terjadi kerusuhan antara etnis Rakhine dengan Rohingya di daerah Rakhine (Arakan), Myanmar.
Kerusuhan ini bermula setelah pada tanggal 3 Juni 2012 polisi di Rakhine menahan tiga pria Muslim (Rohingya) sehubungan dengan dugaan pemerkosaan dan pembunuhan terhadap seorang wanita Budhis Rakhine Mei lalu. Belum selesai proses penyidikan terhadap kasus tersebut, muncul kejadian penyerangan secara serampangan dan membabi buta oleh umat Budha di dalam bus yang menewaskan 10 orang muslim. Menurut laporan pejabat Myanmar, korban tewas ada 13 Budhis Rakhine dan 16 Muslim Rohingya. Keadaan menjadi tak terkendali ketika kedua pihak saling menyerang sebagai aksi balas dendam. Kalangan Budha dan Muslim gantian melakukan hal yang sama. Saling serang itu memaksa orang untuk mengungsi dan menewaskan banyak warga Rohingya .
(Catatan: Dari isu pemerkosaan & pembunuhan seorang wanita Budha oleh 3 pria muslim Rohingya, lalu merembet ke pembantaian membabi buta penumpang bus yang menewaskan warga Budha Rakhine dan Muslim Rohingya oleh sekelompok Budhis, mengapa berujung pada aksi saling balas dendam dari Budhis Rakhine dengan Muslim Rohingya, padahal pelaku & motifnya belum jelas? Pasti ada yang memprovokasi supaya pecah perang antar suku atau agama. Tapi siapa provokatornya?)
Sebagai informasi, Myanmar merupakan negara multi-agama dengan jumlah penduduk sekitar 60 juta orang. Statistik menunjukkan bahwa 89% penduduknya beragama Budha, 4% adalah Kristen, 4% adalah Muslim dan sisanya mengikuti agama-agama lain, termasuk Hindu dan Baha'i.
HRW (Human Rights Watch) sebuah organisasi hak asasi manusia yang bermarkas di New York, AS mengungkapkan aparat keamanan Myanmar terlibat dalam aksi pembunuhan, pemerkosaan dan penangkapan massal warga Rohingya saat terjadi kerusuhan bernuansa sektarian di kawasan Rakhine, Myanmar barat, Juni lalu. Ini berdasarkan laporan setebal 56 halaman mengenai kondisi di Rakhine yang disusun berdasarkan 57 wawancara dengan warga Rakhine dan Rohingya.
Aparat keamanan Myanmar juga dilaporkan telah membiarkan aksi brutal yang dilakukan warga Rakhine terhadap kelompok etnis minoritas Rohingya. Dalam laporan itu disebutkan, pasukan paramiliter hanya berdiam saat massa warga Rakhine mulai menyerang dan membakar rumah warga Rohingya di ibu kota Rakhine, Sittwe, 12 Juni.
Saat warga Rohingya berusaha menghentikan aksi pembakaran itu, polisi dan pasukan paramiliter Pemerintah Myanmar malah menembaki mereka dengan peluru tajam. Dilaporkan juga ratusan pria dewasa dan anak laki-laki dari etnis Rohingya ditangkap dan tak diketahui nasibnya hingga kini. Laporan Amensty International juga menyebutkan, warga Muslim Burma di negara bagian Rakhine kembali mengalami serangan dan penangkapan semena-mena beberapa minggu sesudah kerusuhan. Aparat keamanan Myanmar gagal melindungi warga Arakan (sebutan lain Rakhine) dan Rohingya dari serangan satu sama lain. Berikut ini adalah pembelaan pemerintah Myanmar lewat Menlu Myanmar Wunna Maung Lwin, yang menyatakan, aparat keamanan di Rakhine telah benar-benar menahan diri saat mengatasi kerusuhan dan ketika mencoba memulihkan kembali situasi dan keamanan.
Presiden Myanmar, Thein Sein awal bulan Agustus ini mengatakan jalan keluar untuk warga Rohingya adalah deportasi atau dikirim ke kamp pengungsian. Sikap presiden yang mewakili sikap pemerintah Myanmar ini mengakibatkan kekerasan meningkat dan memaksa pengungsian besar-besaran etnis Rohingya ke berbagai negara tetangga.
(Catatan: Presiden Myanmar memberi solusi dengan deportasi atau mengungsikan warga Rohingya. Tapi apa yang sudah dilakukan pemerintah dalam menindak para pelaku kerusuhan yang menurut laporan adalah warga negaranya sendiri termasuk polisi & tentara?)
Sejak saat itu setidaknya 78 orang tewas dalam kekerasan, tetapi jumlah korban diperkirakan lebih tinggi. Sementara ribuan pengungsi berusaha memasuki Banglades dengan naik perahu menyusuri sepanjang Tanjung Bengal dan menyeberangi sungai Naf yang memisahkan kedua negara.
UNHCR mengatakan sekitar 80.000 orang kini mengungsi akibat kekerasan antar komunal di Rakhine. Bahkan menurut HRW diperkirakan jumlah warga Muslim Rohingya yang mengungsi mencapai 100.000 orang.
Yang lebih disayangkan lagi adalah ketika dunia internasional melalui PBB mulai bereaksi untuk membantu, muncul sentimen dari warga Rakhine. Utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk urusan HAM, Tomas Quintana mengunjungi lokasi kerusuhan. Kunjungannya itu diwarnai protes dari sekitar 100 warga Myanmar. Beberapa warga Budha terutama etnis Rakhine di Myanmar, menilai UNHCR bersikap bias dan berpihak kepada warga Muslim Rohingya. Mereka menilai hal ini disebabkan oleh PBB merekrut personilnya dari komunitas Muslim.
Bangladesh salah satu Negara tetangga Myanmar yang menjadi tujuan utama pengungsi Rohingya tidak mau memberikan perlindungan bagi Muslim Rohingya meskipun dunia internasional menyerukan agar membuka pintu perbatasan. Alasannya adalah Bangladesh bukanlah pihak yang ikut menandatangani Konvensi PBB tentang Pengungsi (UN Convention of the Refugees). Sehingga tidak ada kewajiban hukum untuk menerima Muslim Rohingya sebagai pengungsi. Namun demikian, meskipun tidak memiliki kewajiban secara hukum, tetapi setidaknya Bangladesh memiliki sebuah kewajiban moral atau kemanusiaan dalam situasi perang seperti kejadian yang menimpa Muslim Rohingya.
Pada tanggal 13 Juni 2012, Menteri Luar Negeri Bangladesh Dr. Dipu Moni mengatakan, "Kami sudah dibebani dengan ribuan pengungsi Rohingya yang tinggal di Bangladesh dan kita tidak ingin lagi ada tambahan dari mereka," katanya.
Dalam pandangan saya, sikap pemerintah sudah benar dengan alasan yang saya perkuat sebagai berikut:
Pertama, Bangladesh adalah negara yang tergolong kelebihan penduduk dibandingkan dengan ukuran teritorialnya (sekitar 160 juta orang terjepit di daerah berukuran luas 147.570 kilometer persegi). Pejabat Bangladesh memperkirakan ada sekitar 300.000 Muslim Rohingya di negeri ini (Bangladesh), dengan sekitar sepersepuluh dari para pengungsi itu menempati dua kamp pengungsi resmi di distrik selatan Bazaar Cox.
Kedua, pengungsi Rohingya merupakan beban berat bagi ekonomi Bangladesh dan sumber daya yang minim. Dilaporkan bahwa penduduk setempat banyak yang tidak mau menerima pengungsi Rohingya, beberapa di antaranya diduga karena keterlibatan mereka dalam kegiatan yang tidak diinginkan baik di dalam area lokal atau di perbatasan. Oleh warga setempat, pengungsi Muslim Rohingya dianggap sebagai ancaman bagi kedamaian dan keamanan masyarakat setempat.
Ketiga, pengungsi Rohingya dilaporkan telah menciptakan citra buruk tentang Bangladesh di kawasan Timur Tengah yang merupakan salah satu tempat tujuan rakyat Bangladesh mencari penghidupan. Hal itu diduga karena sebagian besar "Bangladesh" yang banyak melakukan kejahatan di Arab Saudi diketahui ternyata merupakan Muslim Rohingya.

Keempat, banyak yang percaya bahwa, setelah dirampas hak-haknya sebagai warga negara Myanmar sejak tahun 1962 ketika Jenderal Ne Win merebut kekuasaan, banyak Muslim Rohingya dilaporkan melakukan perlawanan gerilya melalui sebuah organisasi perlawanan antara lain: Arakan Rohingya National Organisation dan Arakan Rohingya Islamic Front untuk menuntut kemerdekaan tanah Rohingya di negara bagian Rakhine. Pada tahun 1978, ketika Bangladesh pada kesepakatan dengan pengungsi Rohingya untuk dipulangkan ke Myanmar, pengungsi Muslim Rohingya dilaporkan menolak pemulangan mereka sampai tanah itu benar-benar "aman" menurut sudut pandang mereka.
Kelima, kesalahpahaman serius telah tercipta di masa lalu antara Bangladesh dan Myanmar tentang isu pengungsi Muslim Rohingya. Bangladesh tidak ingin terlibat salah paham tentang masalah itu dengan salah satu tetangga terdekatnya, yang berada pada jalur mantap menuju reformasi yang demokratis. Perdana Menteri Bangladesh mengunjungi Myanmar Desember lalu dan presiden Myanmar diperkirakan akan berkunjung pada pertengahan Juli setelah jeda 26 tahun.
Selama ini Pemerintah Myanmar menegaskan sekitar 800 ribu warga Muslim Rohingya takkan mendapatkan kewarganegaraan Myanmar. Meskipun ribuan warga Rohingya sudah ada di Arakan ratusan tahun yang lalu. Hal serupa juga diutarakan langsung oleh Presiden Thein Sein yang belum bisa menerima warga Rohingya sebagai warga negaranya. Thein Sein sempat menganjurkan deportasi untuk warga tidak memliki kewarganegaraan itu.
(Catatan: Sungguh ironis, suatu etnis yang telah menduduki suatu wilayah, bahkan sebelum terbentuknya Negara di daerah tersebut, didiskriminasi dan dirampas hak kependudukannya oleh pemerintah setempat.)
Menurut PBB, Rohingya merupakan etnis minoritas yang mayoritas beragama Muslim yang paling menderita di dunia. Mereka tidak diizinkan bersekolah dan tidak mendapatkan hak tanah di negara itu, karena dianggap sebagai pengungsi ilegal dari Banglades. Padahal suku ini sudah lama tinggal disitu. Burma dan Bangladesh menolak keberadaan Warga Rohingya sebagai warga negara.
Etnis Rohingya sudah sejak lama didiskriminasi serta dirampas haknya di tempat tinggal mereka sendiri. Dan saat terjadi penganiayaan, pemerintah yang seharusnya melindungi mereka malah lepas tangan, bahkan saat mencari suaka ke tetangga terdekat, mereka tak diterima, lalu dimanakah cinta untuk Rohingya?
Sekarang saya mengajak semua sodara/iku yang peduli terhadap nasib sodara/i kita Rohingya untuk sejenak berdoa demi pulihnya kondisi di Rakhine, Myanmar, supaya tercipta kedamaian, keadilan & cinta kasih.
Sodaraku… untuk kesekian kalinya saya ingin mengingatkan bahwa TRANSFORMASI/TRANSISI/EVOLUSI BUMI SUDAH DI DEPAN MATA.
Apakah itu akan lancar atau penuh bencana yang mampu membinasakan umat manusia karena Ibu Bumi harus membersihkan semua energi negatif dari tubuhnya, itu tergantung manusia Bumi sendiri.
Sungguh sangat disayangkan, manusia bumi beragama tapi tak mengerti inti dari spiritualitas sesungguhnya. Manusia Bumi harus belajar apa itu KASIH & KESADARAN bahwa KITA ADALAH SATU. Jika masih terus ada kebencian, ketidak pedulian, kompetisi, manipulasi, diskriminasi, kekerasan, pembunuhan, maka ini semua akan mengarah pada PEMURNIAN/PEMBERSIHAN. Waktunya memilih adalah SEKARANG!
Untuk semua info yang berkaitan dengan evolusi bumi/ascension bisa ikuti blog saya:
Atau follow me on TWITTER @dewakamajaya777
SEMOGA CAHAYA & KASIH TUHAN SELALU MENAUNGI KALIAN SODARA/I TERKASIHKU

Dewa Kamajaya
Admin

Male Age : 28
Lokasi : Bandung
Join date : 03.08.12
Jumlah posting : 223
Points : 1945
Reputation : 3

Lihat profil user http://starlights.indonesianforum.net

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik